Mereka Cuma Bersembunyi di Balik Kemudi

Bapak tua dan anaknya itu berjalan berdampingan. Mereka terus berjalan menembus riuhnya jalanan ibukota yang semakin mengganas situasinya menjelang maghrib. Mata sayu sang bapak terus menatap lurus ke depan, seolah mencoba mencari tempat dimana matahari terbenam hari itu. Namun kadang mata itu juga tertunduk lesu, lelah menarik gerobak barang bekas di belakangnya, seolah mencari jejak-jejak energi yang ia harapkan terhampar di sekitar langkah-langkah kakinya.

Sang anak masih terus mengenggam tangan sang bapak. Jemari kecilnya seakan menolak untuk melepaskan satu-satunya harapan yang ada di sampingnya saat itu. Wajahnya tertunduk lemah, tatapannya hampir kosong seakan sedang mengingat-ingat keceriaan yang ia tinggalkan seiring dengan berputarnya roda gerobak sang bapak. Namun, tangannya yang kotor masih menggenggam erat sang bapak.

Roda gerobak itu akhirnya menghantarkan mereka ke sebuah persimpangan jalan. Persimpangan itu adalah salah satu tempat yang telah akrab mereka lewati setiap harinya. Lampu-lampu kota mulai menyala satu-persatu seiring dengan awan mendung yang tampak menggantung. Sang bapak berhenti sejenak dan menyesap sedikit air bening yang ia bawa. Sang anak hanya menatap dan menggeleng ketika tangan penuh keringat itu menyodorkan botol air mineral bekas tersebut, sebuah dialog tanpa kata mengalir begitu saja.

Sang bapak akhirnya meneruskan perjalanannya. Sayang, ia sedikit terlambat. Jalanan kini telah penuh dengan kendaraan-kendaraan jahanam. Suara-suara knalpot motor nan sumbang, diiringi dengan bunyi-bunyian klakson yang seolah tanpa henti memekakkan telinga, telah menjadi simpul-simpul tak terurai. Sang bapak menepuk halus kepala sang anak yang tertutup topi oranye dan kembali menarik gerobak itu. Tangan mungil itu kembali menggenggam erat punggung tangan sang bapak.

Roda gerobak itu masih terus berputar. Sang bapak terus memimpinnya hingga mencapai titik persimpangan. Ia sedikit menambahkan kecepatan yang secara langsung menguras tenaganya lebih banyak lagi. Tangan tua itu menegang, napasnya semakin memburu, beban di dalam gerobak itu tampak sudah terlalu berat. Namun, si topi oranye menggenggam tangan sang bapak semakin keras. Kaki-kaki kecilnya mulai berlari-lari kecil. Sendal jepit hijaunya seolah beradu dengan aspal hangat berkat teriknya matahari siang tadi. Sang bapak tak menoleh, sang anak juga enggan menatap. Keduanya telah mengerti bahwa ini adalah jalan satu-satunya menuju rumah. Mereka tetap berdampingan menggerus garis-garis marka jalan.

Sayang, sang bapak kurang awas. Sebuah mobil melaju dengan kencang dari sisi kanannya. Ia baru sadar saat lampu putih tersebut semakin terang. Sang bapak terhenti. Tangannya langsung meraih pergelangan tangan sang anak. Mobil itu berhenti tepat di samping gerobak bertuliskan “Cirebon Beriman”. Sang bapak dan sang anak terhenti, menatap lampu yang berpijar terang di samping kanannya. Waktu seolah berhenti seiring dengan terpakunya dua pasang kaki.

Seketika itu juga, kaca jendela pengemudi menurun. Bukan permintaan maaf, bukan juga sebuah kata-kata sopan. Sederet kalimat umpatan tiba-tiba mengalir dari mulut pria berkacamata dan berkemeja tersebut. Tak mampu menahan emosi, sang bapak akhirnya ikut tenggelam dalam lautan makian. Si topi oranye hanya terdiam dengan lutut yang tampak gemetar. Namun, ia menguatkan hati. Ia menyentuh kaki sang bapak dan menarik lembut celana panjang lusuhnya. Bola matanya melirik sesaat, bertemu dengan tatapan lesu sang anak. Sambil mengabaikan gertakan-gertakan dari si pengemudi, sang bapak menarik kembali beban di belakangnya, tak sadar si topi oranye berlari-lari kecil mencoba meraih tangan sang bapak.

Akhirnya mereka tiba di seberang jalan. Tampak jelas bahwa tulisan “Cirebon Beriman” terpajang di kedua sisi gerobaknya. Sang anak akhirnya berhasil menggenggam tangan yang masih tegang akibat didera amarah. Tersadar akan sentuhan tangan si kecil, sang bapak hanya menepuk-nepuk kepala si topi oranye tanpa mengerti bahwa tatapan lembut yang dibalut dengan senyuman tengah meminta sebuah pamrih. Akhirnya sang bapak menyerah. Ia menatap ke mata sang anak dan melepaskan senyuman terbaiknya pada hari itu.

Di bawah siraman cahaya lampu jalan, aku menjadi saksi ketika si topi oranye akhirnya meminum habis air bening dari botol air mineral bekas tersebut. Sang bapak kembali menarik gerobaknya didampingi oleh si topi oranye. Kini, mereka saling menggenggam, saling menguatkan, saling mengingatkan. Berdua mereka menghadapi iblis-iblis kejam bersamarkan kemeja berdasi dan bersembunyi di balik kemudi.

Broken

He who stands beside me. He who protects the faint human.

He sleeps with the blanket of his own fear.

He wakes up with the clothes of his own broken soul.

He covered the weakness with his failure.

He smothered the frailty with his phony philosophy.

thedanielcraigfixation:

whatthefawkes:

The first poster for ‘Skyfall’

thedanielcraigfixation:

whatthefawkes:

The first poster for ‘Skyfall’

My next best villain. Will you agree?

My next best villain. Will you agree?

Terhuyung dikepung rindu.
Syahdu.